Dari Terpaksa, Bête, Tawa, Suka, Tangis hingga Cinta.

Print

(sepenggal catatan dari Rekoleksi OMK, 16 – 17 Juli 2011)

Sabtu, 16 Juli 2011, mungkin ini pertama kali kita berkumpul bersama dengan nama OMK. Pagi itu sekitar 45 peserta Rekoleksi berkumpul di Tulkun, berbagai raut wajah bisa kita lihat disini, dari yang senang sampai yang ditekuk karena kebeteannya. Belum lagi jam karet. Akhirnya walau terlambat kita berangkat juga, kira2 pukul 07.15. Di dalam bis suasana masih belum kondusif, banyak tekukan muka yang sangat masam (maklum, di hari libur harus bangun pagi dan mengikuti acara rekoleksi yang belum jelas juntrungannya). Ditambah lagi, sesampainya di Gadog, bis harus diberhentikan karena menunggu jam buka searah naik.

Pukul 10.10 rombongan sampai di Villa Basovi. Kita semua langsung berkumpul di halaman vila lalu dilanjutkan dengan sambutan dari panitia, pembagian kamar dan perkenalan peserta serta pembentukan kelompok.

Kelompok 1 yang dipimpin oleh Benedictus B. Dewan mendapat giliran untuk memimpin doa makan siang dan terus bergiliran dengan kelompok lainnya. Suasana makan siang itu menjadi begitu nyaman karena beberapa panitia yang ikut makan bersama membaur bersama peserta. Setelah makan siang acara dilanjutkan dengan Ice Breaking lalu masuk ke sesi Outdoor Activity yang berisikan 3 games mengenai kehidupan kaum muda di Masyarakat, Gereja dan Keluarga. Tawa dan canda peserta mulai terlihat, yang awalnya hanya cuek, kini mulai saling kenal dan saling membantu satu sama lain. Sore hari acara dilanjutkan dengan istirahat dan penampilan yel-yel per kelompok, walau hujan mengguyur tapi tawa, canda membuat suasana menjadi hangat.

Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan sesi sharing yang dibawakan oleh panitia dan Bpk. Rahyono, mengenai apa itu Rekoleksi, apa itu OMK, juga bagaimana kita menjadi OMK menghadapi era Globalisasi. Memasuki sesi ke 3, sesi dilanjutkan dengan perenungan perjalanan kita sebagai kaum muda sampai saat ini. Dosa – dosa kita kepada Tuhan, sesama bahkan keluarga seperti tak terhitung lagi, dan malam itu kita coba untuk menuangkan itu semua, mengatakannya bersama kepada Tuhan dan memohon ampunan dari-Nya. Hisak tangis perlahan terdengar, segala penyesalan itu barulah datang namun semua itu kita bawa bersama dalam doa. Untuk merefresh kembali suasana, panitia menampilkan album foto sejarah OMK dari jaman ke jaman. Canda dan tawa kembali terlihat. Sungguh moment malam itu tak kan pernah terlupakan.

Minggu pagi-pagi sekali, suara speaker sudah bising. Semua dipaksa bangun. Kemudian acara dilanjutkan dengan renungan pagi dan meditasi yang dipimpin oleh panitia dan Bpk. Stefanus (Ketua Legio Maria). Setelah itu acara dilanjutkan dengan jogging pagi menikmati alam sekitar penginapan dan dilanjutkan dengan beberapa games yang menuntut kekompakan dalam setiap kelompok.

Sekitar sejam berlalu kami peserta kembali berkumpul di tempat awal acara. Dengan keadaan setengah basah dan ditemani segelas kacang hijau hangat buatan panitia kami mendengarkan penjelasan game berikutnya. Game yang mengasah kekompakan kita. Peserta harus berusah melindungi lilin dari serangan panitia. Hal yang paling mengejutkan ialah kita semua diminta berenang di sebuah danau buatan yang menjadi start permainan ini. Kotor, dingin dan bau bercampur jadi satu namun ini harus kami lalui. Seluruh panitia tak habisnya melempari kami dengan air, sampai akhirnya kita pada sebuah tali yang mengikat ke kain yang terbentang. Semua selesai setelah tali terbakar dan kain bertuliskan “Bangkit dalam Kebersamaan” terbentang di atas kami semua. Sebagai kenangan dan sekaligus janji untuk OMK sendiri maka kami berfoto di bawah tulisan itu. Semua bersatu berkumpul layaknya saudara. Tak ada lagi panitia atau pun peserta di sini. Kasih Tuhan sungguh turun dalam kami semua.

 

Setelah selesai kami semua segera mandi dan membersihkan diri untuk mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Agus. Misa berlangsung khidmat dan diselingi candaan tentang orang muda oleh romo. Sehabis misa kita makan siang bersama dengan diiringi tayangan foto – foto dan video selama kita mengikuti rekoleksi dari awal sampai akhir. Lalu kita berbenah, merapikan segala bawaan untuk segera kita kembali ke bis lalu dan pulang.

Sungguh, saya tidak mengira acara yang awalnya saya sangat tidak sukai bahkan saya berpikiran Sabtu itu saya mau kembali lagi ke rumah saja, ternyata berubah seketika menjadi acara yang amat saya rindukan. Kalau saya boleh memutar waktu pasti saya akan mengulang acara ini lagi, dan berharap bertemu “dia” kembali, ujar salah seorang peserta yang kini mulai aktif di OMK dan membantu membuat tulisan ini.

Semoga acara ini bukan hal pertama dan terakhir, tapi menjadi awal kebangkitan OMK kita, kebangkitan kaum muda. Maju terus Orang Muda Katolik, kita bangkit dalam kebersamaan, pasti kita bisa, karena kita OMK.* (Vincentius Andy, Ignatius Ivan Bayu/OMK)

 


Warta Gereja

Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More


Pengumuman Perkawinan

Read More


Petugas Liturgi

Read More


Kegiatan Paroki

Read More



Kalender Liturgi

Contact Redaksi