L O A D I N G ...
Please Wait

Siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan perjalanan? Rasanya kita semua tentu pernah bepergian bukan. Entah perjalanan sekadar untuk kegiatan rutinitas atau untuk liburan. Dalam benak kita, perjalanan selalu dimulai dari satu titik menuju titik yang lain. Saat hendak melakukan perjalanan itu secara tidak sadar kita kemudian memikirkan tentang apa saja yang akan dibawa, di mana titik keberangkatannya, dan di mana titik akhir perjalanan. Intinya kita mengharapkan agar perjalanan terasa happy, ga boring, dan supaya bisa sekaligus healing. Setiap titik ini kemudian menghadirkan perasaan. Pertanyaannya adalah, ketika hidup kita juga merupakan suatu perjalanan, apakah kematian kemudian menjadi akhir dari perjalanan?

Tentu sebagai pengikut Kristus dengan enteng kita menjawab, “Oh tidak, kematian bukan akhir perjalanan hidup sebab ada kebangkitan. Melalui kebangkitan ini kita melanjutkan perjalanan kita”, terlebih kita baru saja merayakan Pesta Paskah. Dengan penuh kepercayaan diri jawaban ini kita lontarkan. Sebuah jawaban yang terlihat sederhana tetapi justru akan menimbulkan pergumulan dalam hati. Ketika manusia melakukan perjalanan, melanjutkan perjalanan, dan ternyata perjalanan ini tidak memiliki finish line, how do I deal with this endless road, bagaimana aku menyikapi jalan yang tidak memiliki garis finish ini?

Kematian merupakan factum brutum, fakta yang tidak terbantahkan, yang tidak terelakkan. Namun sudah tepatkah kita memandang kematian dengan cara demikian? Melalui Martin Heidegger kita mengenal sein zum tode, oleh karena kematian (tode) itulah kita memiliki makna hidup, dan melalui Pesta Paskah kita mengetahui bahwa maut telah dikalahkan. Sebagai umat beriman Katolik tentu kita mengikuti jejak Kristus, kita telah mengetahui bahwa Yesus telah mengalahkan maut, dan Yesus bangkit dari antara orang mati. Melalui baptisan yang kita terima, kita mengetahui pula bahwa kita akan hidup dalam hidup yang baru. Namun sudah cukupkah hanya dengan mengetahui dan memahami kebangkitan itu? Apakah aku benar-benar telah mempercayai kebangkitan itu?

Saudara dan Saudariku yang terkasih dalam Kristus, di sinilah letak ujian iman kita. Menjalani perjalanan yang tidak memiliki garis akhir hendaknya tidak membawa kita pada disorientasi, pada kehilangan arah. Yesus sendiri mengatakan, “Ikutilah Aku” maka sebagai umat beriman kita tahu bahwa Yesus adalah tujuan kita. Lantas apakah cukup hanya dengan beriman dan percaya saja? Tentu tidak. Iman tanpa perbuatan sungguh sia-sia. Hans Kung dalam bukunya, Eternal Life, juga menolak iman yang pasif.

Iman kita perlu berkembang. Hendaknya iman jangan hanya berhenti pada, “Yang penting Aku percaya” dan kemudian mengabaikan saudara lainnya yang membutuhkan bantuan kita. Jika demikian adanya, sesungguhnya iman ini berubah menjadi keegoisan pribadi. Memang tidak mudah untuk dilakukan tetapi menanggung salib itu bukan perkara hal mudah atau hal sulit untuk dilakukan melainkan perkara mau atau tidak aku menanggung salib itu. Artinya bukan tentang tidak mudah untuk memaafkan mereka yang menyakiti kita, bukan tentang tidak mudah menerima mereka yang mengasingkan kita tetapi tentang apakah aku mau memaafkan mereka, apakah aku mau menerima mereka. Tentu memang berat dan tidak mudah sebab kehendak Allah yang kita lakukan, bukan kehendak pribadi kita dan inilah penyangkalan diri itu.

Kebenaran dan kepalsuan dapat bermanifestasi dalam banyak rupa. Namun bukan hal yang mustahil untuk melihat kebenaran itu sebab kebenaran itu telah ada pada pribadi kita masing-masing. Sesungguhnya jawaban tentang kebenaran telah ada dalam hati setiap manusia sebab Allah sendiri yang menorehkan hukum-Nya dalam hati manusia. Jika perjalanan yang memiliki garis finish saja kita persiapkan bekalnya dengan sungguh-sungguh apalagi perjalanan tanpa garis akhir.

Fr. Yohanes Steven Ageng Wicaksono

Frater Skolastikat tingkat III, Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Keuskupan Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *