L O A D I N G ...
Please Wait

Beranikah umat St. Joannes Baptista Parung membuka pintu rumah setiap tanggal 24 Desember?

RP Efendy Marut OFM mengawali khotbahnya pada perayaan malam natal pertama di gereja St. Joannes Baptista Parung dengan mengisahkan sebuah ilustrasi kisah unik di salah satu dusun di Irlandia. Masyarakat dusun ini akan membuka pintu rumahnya sejak memasuki tanggal 24 Desember hingga menjelang misa malam natal. Masyarakat juga menyalakan dua buah lilin sebagai peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Tradisi ini mereka lakukan karena tidak ingin momen kelahiran Tuhan Yesus di kandang domba terulang kembali. Di malam itu, Maria dan Yusuf tidak memiliki tempat di rumah penginapan hingga harus menginap di kandang domba.

Membuka pintu rumah sebagai simbol perayaan Natal. Umat siap membuka rumah dan hati mereka untuk kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Peristiwa ini merupakan momen suka cita bagi seluruh umat Katolik karena sang Juruselamat telah lahir ke dunia.

Romo Efendy mengingatkan kita agar tidak terlena dengan suka cita kelahiran Tuhan Yesus dan tidak berjaga. Tidak ada yang menduga Maria mengandung Yesus. Yesus  pun datang secara tidak terduga. Sering kali Tuhan datang dalam diri orang biasa. Barangkali selama ini Tuhan datang dalam diri orang yang sepele, menderita atau susah. Bahkan, kita diingatkan barangkali Yesus hadir di keluarga kita yang kita anggap menyebalkan.

Sementara di misa ke dua RD Yustinus Joned Saputra menegaskan kembali tema Perayaan Natal keuskupan Bogor “ Berjalan Bersama Menuju Betlehem”. Dalam Khotbahnya, Romo Joned mengingatkan kita tentang teman seperjalanan. Bila dalam hidup, kita tidak memiliki teman seperjalanan apakah karena kita tidak terbuka? Bahwa ada pribadi-pribadi yang sebenarnya menunggu kita untuk menjadi teman seperjalanan.

Menjadi teman seperjalanan menuju Betlehem berarti kita diajak untuk bergerak melakukan sesuatu. Teman seperjalanan yang dimaksud misalnya istri, suami, anak, kakek, nenek atau keluarga lainnya. Memiliki teman seperjalanan berarti kita diajak untuk bersungguh-sungguh bisa menerima Betlehem sebagai sebuah kebersamaan yang kemudian menghadirkan sukacita.

Menghadirkan sukacita dalam Betlehem tentu harus memiliki kebersamaan hati untuk dapat saling menerima dan mau menjalankan kehendak Allah. Kita dapat belajar dari Maria dan Yusuf yang mau berjalan bersama untuk menyambut kehadiran Sang Putra. Kebesaran hati membutuhkan ketaatan Iman. Inilah yang membuat Maria dan Yusuf menerima Allah atas hidup mereka dan dijalankan dengan taat.

RD Yustinus Joned mengingatkan kita bahwa kelahiran Kristus membawa kita berjalan bersama dan melalui kebesaran hati-Nya kita akan mengalami kegembiraan hati karena mau berjalan bersama untuk membangun gereja kecil dalam keluarga atau teman seperjalanan.

Misa Malam Natal di Paroki St. Joannes Baptista berlangsung dalam dua sesi. Sei pertama pada pukul 17.00 WIB berlangsung secara bersamaan di tiga tempat berbeda yati di gereja Tulang Kuning, Wilayah lima, dan di Sekolah Marsudirini. Sementara misa malam natal sesi kedua berlangsung pada pukul 20.00 dan dipimpin oleh RD. Yustinus Joned Saputra.

Leave a Reply